Untitled 1.2

 Ini adalah kisah yang sudah selesai, yang dialami seorang anak yang masih tidak paham dengan dunia dan isinya. Ia masih kecil, bahkan belum menginjak usia sekolah dasar. Ini adalah cerita yang tidak sempat diceritakan dan akan aku ceritakan secara terbalik.


Mulai dari mana?


Ini kejadian yang cepat dan berantakan. Sang anak tidur lelap dalam pelukan ibunya yang masih menangis. Seketika ibunya membangunkannya lalu mengajaknya keluar kamar. Ibu memeluknya. “Jangan, ibu,” kata yang keluar dari mulut sang anak. Keduanya jelas dalam tangisan.


Ayah memegang pisau yang diambil dari suatu tempat, entah dari mana. Pisau itu berpindah ke tangan ibu. Ujung pisau yang tajam sempat mengarah ke tempat di mana ibu mengandung anaknya. Lalu ibu menariknya menjauh, mendengar anak berkata sambil menangis memohon, “Jangan, ibu.”


Ibu kemudian menuju dapur, meninggalkan anak dan ayah di ruang tengah. Meletakkan pisau di meja — tempat di mana pisau seharusnya ada. Lalu ibu kembali ke ruang tengah, duduk dengan tangisan dan amarah yang masih membara. Kalimat yang diucapkan orang tua sang anak tidak jelas, atau lebih tepatnya tidak dipahami anak. Anak hanya mengucap kata yang sama. Kata yang sama yang nanti akan ia ingat bertahun-tahun.


Tangisan di ruang tengah itu tak kunjung reda. Ayah yang tadi menyusul ibu ke dapur kembali dengan pisau yang berbeda… sama… atau mungkin berbeda. Diambil dari tempat yang sama di dapur. Kejadiannya sama. Pisau coba ditahan ayah, sementara anak tidak tahu harus memegang apa. Lalu ibu menariknya lagi dari tempat yang sama. Kembali ke dapur, mungkin untuk mencari pisau lain atau benda yang tajam.


Anak masih menangis, tapi suasana berubah seperti medan perang. Adu mulut terdengar kencang antara ibu dan ayah dan tak kunjung berhenti. Tangisan anak perlahan mereda, lalu ia mulai bermain dengan mainannya untuk menghindari pertengkaran orang tuanya. Lalu entah apa yang terjadi, seperti mereka mulai berdamai. Suara mengecil sampai tak terdengar oleh sang anak yang mulai asyik dengan mainannya.






Yogyakarta, 09 Februari 2026


Comments